Senin, 29 Agustus 2016

BAHAGIA ITU APA SIH ? | DEFINISI BAHAGIA | BAHAGIA ADALAH

Halo, buat kalian yang lagi mencari kebahagian atau yang lagi bingung dan bertanya-tanya tentang apasih arti dari "bahagia" itu?Saya mengutip bacaan ini dari https://munggur.wordpress.com/definisi-bahagia/
Setiap orang mencari kebahagiaan. Termasuk Anda, saya dan ratusan juta insan manusia lainnya di muka bumi ini. Bila Anda bertanya pada sembarang orang ‘apa yang ingin Anda dapatkan dalam hidup ini?’. Kebanyakan orang akan menjawab ‘saya ingin bahagia’ sebagai salah satu hal yang paling mereka inginkan.
Lalu, pertanyaan berikutnya muncul, ‘apakah Anda sudah bahagia?’. Ada yang bilang, ‘ya, saya bahagia’. Begitu juga, sebagian yang lain akan berkeluh-kesah ‘saya tidak bahagia’.
Namun, pertanyaan yang paling penting adalah ‘bahagia itu apa‘? Kita bisa mencapai sesuatu bila jelas definisinya. Seperti saat Anda ingin menuju ke suatu tempat, Anda tahu terlebih dahulu alamatnya kemudian mencari jalan ke sana. Kita pun akan mencapai kondisi bahagia bila tahu yang akan kita tuju.
Ada yang berpendapat mengatakan definisi bahagia adalah:
Memiliki rumah bagus, mobil mewah, istri cantik dan anak-anak yang lucu.
Lalu, bagaimana bila tak mendapati hal yang diinginkan di atas, apakah berarti orang ini menjadi ‘tidak bahagia’.
Ada sebagian lain yang menyatakan definisi bahagia adalah:
Hidup tenteram dan tidak punya banyak masalah.
Mendapatkan seseorang yang mencintai dan dicintai seumur hidup.
Menjadi diri sendiri.
Bebas melakukan sesuatu dan tidak terikat orang lain.
Terlepas dari keadaan yang membuat stres.
Kesimpulannya, setiap orang memiliki definisi bahagia masing-masing. Bahagia untuk satu orang tidak berarti bahagia untuk orang lain. Dan sebaliknya. Tapi boleh jadi definisi bahagia menurut versi Anda berguna dalam memberikan gambaran bagi pembaca yang lain, yang mungkin belum tahu definisi bahagia.
Saya, mewakili pertanyaan sebagian besar orang,  ingin sekali mencari definisi bahagia. Oleh karena itu, halaman blog ini sengaja didedikasikan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin definisi bahagia.

Berikut beberapa tanggapan orang tentang definisi BAHAGIA yang saya kutip dari https://munggur.wordpress.com/definisi-bahagia/


BAHAGIA ADALAH.......
- Ada suatu saat aku tidak menginginkan apa-apa….itulah saat-saat aku berbahagia…
- Bahagia itu ketika berada dalam keadaan nyaman tenang tanpa tekanan.
- Bahagia adalah ketika dua orang saling mencintai, menerima apa adanya, Tanpa menuntut satu sama lain.
- Bahagia itu tidak diukur dari seberapa banyak kita mendapatkan kesenangan.
- Bahagia menurut saya adalah ‘sebuah kondisi di mana saya tidak terbebani dengan pikiran masa lalu yang menghantui dan masa depan yang merongrong’ dan ‘bisa menikmati masa sekarang dengan penuh senyum’.
-  Bahagia menurut saya apapun yang terjadi apapun yang kita dapat di dunia ini baik itu senyum ataukah air mata hati mampu untuk selalu bersyukur.
- Bahagia? badan sehat, hati girang, pikiran tenang, bebas hutang.
- Bahagia adalah mati masuk surga!
- bAhagiA itU aDalah keajaiban….kEajaiban iTu daTang dR usaHa kiTa mEncOraK diRi…kiTa haRus mEncOrak nya dEngan kEikhlasAn & keTulusAn…(btw mata kalian gak sakit kan baca yang ini?)
- Kalau saya, bahagia berarti tidak banyak beban hidup… Hidup berkecukupan, tenang, nyaman, damai, dan sejahtera.
- Bahagia itu santai menikmati hidup lagi susah dinikmati.. lagi senang dinikmati…
- Bahagia adalah kepuasan diri saat perbuatan kita mampu menorehkan seulas senyum di bibir orang-orang sekitar kita.
- Bahagia… ga banyak utang
- Bahagia? Kalo kata saya bahagia itu bisa mencapai hal yang kita inginkan, dan hidup sambil melakukan apa yang kita suka dan kita anggap mudah..
- Bahagia= tak sedih
- Bahagia adalah ketika anda mati dan bertemu dengan TUHAN
- Bahagia adalah ketika kita bisa memahami dan melaksanakan kehendak “Zat” yang menciptakan kebahagiaan
- Bahagia : ketika kita bisa menikmati semua proses hidup. baik ketika kita senang dan sedih, menangis dan tertawa, sukses dalam study; mengerjakan tugas kuliah, bisa juga menikmati masa-masa sulit ketika kiriman terlambat dari kampung…. sukses juga dalam bekerja dan rumah tangga
- Bahagia? Rasa nyaman yang nikmat sekali, hmm…. damai… lebih afdol kalau tidak bahagia sendirian.
- Bahagia bukan kata tetapi rasa. (ini dicatet, saya setuju yang ini)
- Bahagia adalah suatu keadaan ( ketenangan hati ) karena tidak banyak beban dalam hidup dan kehidupan.
- Bahagia adalah ketenangan batin, dimana apapun yang sedang kita kerjakan, apapun yang kita miliki, Batin kita tetap tenang. ga harus yang di penjara, dan miskin itu tidak bahagia, ga harus yang kaya raya, dan yg jenius itu bahagia. It depends on u. Maukah saya bahagia?
- Bahagia adalah dimana ketika kita bisa membahagiakan orang lain.
- Bahagia adalah mengetahui bahwa apa yg kita lakukan saat kita hidup akan menyelamatkanmu di  kehidupan berikutnya.
- Bahagia adalah kemampuan untuk menerima kenyatan
- Bahagia itu adalah saat kita tersenyum dengan iklas…
- Bahagia adalah kepuasan ketika berhubungan sex : “Aku ingin membahagiakannya 2 minggu sekali”.(ini cuma copas sumpah, tapi 2 minggu sekali om, ups)
- Bahagia adalah kepuasan batin kita ketika mendapatkan apa yang kita harapkan..
- Bahagia adalah suatu pilihan dimana kita bisa ikhlas menjalaninya walaupun masih ada pilihan lain yg lebih baik tapi kita tak ikhlas menjalaninya
- Bahagia adalah duka. Dan terletak ditengah tengahnya.(ini saya agak gak ngerti sih)
- Bahagia adalah rasa senang, tenang, dan tentram dalam satu keseimbangan…..
- Bahagia menurut saya adalah ketika logika, emosi dan spiritual kita berjalan selaras
- Bahagia menurut saya adalah ketika logika, emosi dan spiritual kita berjalan selaras
- Bahagia adalah terwujudnya setiap keinginan hati.
- Bahagia bagiku adalah nafas yg gratis yg dberikan ALLAH SWT
- Bahagia adalah krtika masa kanak2 disuka, masa muda terkenal, masa tua kaya raya….
- Bahagia adalah kesederhanaan


Nah, kira-kira seperti itu definisi BAHAGIA menurut beberapa orang, ternyata banyak juga ya. FYI, saya mengutipnya dan sedikit membenarkan ejaan yang salah ketik atau yang kurang bagus tata bahasanya, kalau mau tau versi aslinya bisa ke sumbernya langsung ya.
Kalo menurut kalian gimana? Punya tanggapan sendiri kah tentang arti kebahagiaan atau definisi bahagia itu sendiri? Silahkan sharing disini, karena mungkin saja bahagia itu ketika kita saling sharing kan?
Tapi jika menurut saya jika ditanya tentang apa itu bahagia, BAHAGIA ITU.....KETIKA KALIAN FOLLOW INSTAGRAM SAYA DI @fredyverdana   hehehe canda bro.
Oke itu aja mungkin tulisan kali ini, bye. (FredyVerdana)

Kamis, 25 Agustus 2016

10 Perilaku Istri Durhaka Kepada Suami

Di bawah ini adalah 10 perilaku yang harus dihindari oleh para istri, agar tidak menjadi golongan istri durhaka kepada suami, diantaranya adalah: 
*dikutip dari http://www.kabarmuslimah.com/10-perilaku-durhaka-istri-terhadap-suami
 
1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron.

Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.
Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.
Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.
Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
2. Nusyus (tidak taat kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.

Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
  • Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
  • Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
  • Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
  • Lalai dalam melayani suami
  • Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
  • Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
  • Keluar rumah tanpa izin suami
  • Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.
Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.
3. Tidak menyukai keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.

Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.
Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.
4. Tidak menjaga penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.

Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.
5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.

Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.
Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
6. Mengingkari kebaikan suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.

Ajaib!! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?
“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?
Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).
Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!
Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi, apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?
Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.
Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya,  maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat,  satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan,  masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu,  bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?
“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)
Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri,  jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.
Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.
“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)
7. Mengungkit-ungkit kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]
Abu Dzar radhiyallahu’Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]
8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.
Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.
9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.

Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.
Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.
10. Kurang menjaga perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.

Demikian beberapa perbuatan yang harus dihindari oleh para istri, yang sudah berjanji menerima suaminya dihadapan Allah SWT ketika didepan penghulu, untuk bisa menerima apa adanya keadaan suaminya. Semoga dengan membaca artikel ini kita dapat menyadarinya betapa perbuatan-perbuatan di atas sangat rusak sekali, dengan menghindari perbuatan-perbuatan tersebut, maka akan menimbulkan akibat keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah. Bisa berkumpul di SurgaNya Allah bersama suami. Menjadi suami istri sampai Surga.
Amiin Yaa Robbal’alamiin…

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy- Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)



*dikutip dari http://www.kabarmuslimah.com/10-perilaku-durhaka-istri-terhadap-suami